Home

judul: Principles of Human Geography
penulis: Ellsworth Huntington
penerbit: John Wiley & Sons, Inc. New York.
tahun terbit: 1960
tebal: 805 halaman

Entah mengapa “pencarian jati diri” sebagai Geografer di Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), menuntun penulis pada kitab suci ini.

E. Huntington

Ellsworth Huntington.[1] Sekilas mirip Pak Eko ya?

Bagi kalian yang menyesal harus belajar geografi selama kurang lebih 4 tahun di Departemen Geografi, buku ini mungkin bisa membantu memberikan alasan untuk tidak. Sedangkan bagi kalian yang tidak menyesal dan mempunyai banyak waktu, buku ini menjadi jauh lebih menyenangkan untuk dibaca. Selain kaitannya dengan mata kuliah di Departemen Geografi Universitas Indonesia,  terutama Geografi Fisik 2, Geografi Manusia 2, dan Kartografi; Buku ini membantu kita untuk berpikir luas—berpikir secara global.

Deskripsi Singkat

Secara keseluruhan, buku ini menceritakan bagaimana lingkungan fisik, terutama iklim mempengaruhi manusia secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat dijelaskan mengapa manusia-manusia yang ada di bumi berbeda.

Dalam menceritakan hal tersebut, bagian awal buku ini menjelaskan berbagai proses, fenomena fisik alam, dan hal mendasar lainnya secara ringkas, umum, dan sederhana sebagai landasan untuk memahami isi buku ini lebih lanjut. Ada pengecualian pada penjelasan mengenai proses dan fenomena iklim karena dibahas lebih mendetail.

Di bagian isi buku, dijelaskan thesis dari buku ini sebagaimana dijelaskan pada paragraf 3 di atas: pengaruh fisik lingkungan terutama iklim terhadap manusia.

Di bagian akhir, pembaca akan diajak berkeliling, jalan-jalan ke berbagai macam tempat di dunia (Eropa, Amerika Selatan, Russia, China, dan lainya) sambil diceritakan bagaimana lingkungan fisik di tempat tersebut mempengaruhi manusianya.

Keunggulan

Keunggulan buku ini antara lain: (1) Memaksa kita untuk berpikir global dan (2) kesesuaiannya dengan mata kuliah di departemen Geografi.

Buku ini mengajak kita berpikir global: menceritakan berbagai fenomena fisik/alam yang terjadi di seluruh dunia dan pengaruhnya terhadap manusia di berbagai tempat di dunia. Antara lain buku ini menceritakan:

Bagaimana kondisi iklim yang selalu panas dan lembab di negara tropis bisa menghambat perkembangan manusia di wilayah tersebut, kontras dengan kemajuan manusia pada negara wilayah siklonis yang iklimnya relatif sejuk dan kering namun tersedia cukup hujan sepanjang tahun untuk menanam tanaman pangan; mengapa wilayah jajahan Inggris sangat luas dan tersebar di berbagai penjuru dunia akibat dari lokasi dan bentuk pulaunya; bagaimana bisa pulau Jawa sangat subur dan padat penduduknya; Dan … Ribuan pengetahuan “umum” lainnya yang menunggu untuk  ditemukan sembari kita “jalan-jalan” membalik halaman.

Keunggulan yang kedua, buku ini bisa dijadikan bahan bacaan untuk berbagai materi kuliah di Departemen Geografi Universitas Indonesia, terutama untuk mata kuliah Geografi Fisik 2, Geografi Manusia 2, dan Kartografi; serta dapat dijadikan sebagai “pelarian” dari kebosanan mempelajari mata kuliah tersebut. Misalnya untuk materi sebelum UTS mata kuliah Geografi Fisik 2 tentang iklim yang pembahasannya disini hampir sesuai dengan kurikulum yang diajarkan.

Untuk Geografi Manusia 2 yang salah satunya mempelajari pola ruang juga dibahas disini. Semisal, kondisi geomorfologi suatu negara mempengaruhi bentuk jaringan jalan rayanya, adanya bahan tambang dalam tanah bisa menciptakan kota tambang, bentuk pemukiman dan rumah yang unik di wilayah gurun, dan hal-hal lain sebagainya. Kita menjadi mengerti bagaimana faktor lingkungan fisik mempengaruhi bagaimana manusia menciptakan ruangnya.

Sedangkan untuk mata kuliah Kartografi dijelasan secara umum dan eksplisit didalam bab “Maps and Map Making” dalam buku ini. Meskipun begitu penggunaan SIG yang berbasis komputer belum ada sama sekali.

Selain 3 mata kuliah di atas, ada juga beberapa mata kuliah lainnya yang berkaitan seperti Geografi Politik, Hidrologi, Geomorfologi, dan mata kuliah lainnya.

Namun tetap perlu diingat bahwa penjelasan, terutama pada pada bagian awal buku ini bersifat umum dan seperlunya saja. Kita harus membaca sumber referensi lain jika ingin mendalami topik yang kita sukai lebih detail. Untungnya, di tiap-tiap akhir bab disediakan daftar bacaan/referesi dan rekomendasinya bagi yang ingin memperdalam topik tertentu. Meskipun disediakan, jangan lupa untuk membandingkan datanya dengan bacaan/referensi terbaru yang mungkin bisa diakses melalui internet.

Kekurangan

Ada 3 kekurangan yang menonjol pada buku ini bagi pembaca di Indonesia, yaitu: (1) “Amerika sentris” sehingga (2) merepotkan, dan (3) sudah tua.

Buku ini “Amerika sentris”–mengasumsikan pembacanya adalah orang Amerika, sehingga pembaca non-Amerika harus mengeluarkan usaha lebih untuk memahami buku ini. Selain tentunya bahasa yang diggunakan adalah bahasa Inggris, pembaca membutuhkan mental map wilayah Amerika yang kuat dan harus terbiasa memahami hasil pengukuran satuan non-metrik. Dalam berbagai penjelasan dalam buku ini (seperti luas negara, panjang sungai, kondisi iklim, dan lain sebagainya), penulis buku banyak memberikan perbandingan terhadap berbagai wilayah dan kondisi di Amerika. Salah satu contohnya adalah pada saat buku ini menjelaskan panjang dan lebar sungai Rhine di Eropa yang dibandingkan dengan sungai Mississippi di Amerika.

Penggunaan satuan non-metrik seperti kaki, mil, pound, acre, derajat Fahrenheit, dan  kawananannya membuat pembaca dari negara yang menganut sistem pengukuran metrik sulit mendapat gambaran dari hasil pengukuran.

Dari kelemahan buku yang “Amerika sentris” ini muncul kelemahan baru yaitu merepotkan, alias membutuhkan usaha lebih untuk memahami isi buku ini: termasuk membolak-balik/browsing atlas Amerika dan dunia, atau sibuk mencari lokasi di Google Maps. Meski demikian, berbagai tempat yang diceritakan dalam buku ini mudah diingat, karena diceritakan dengan cukup logis. Lagipula, proses yang merepotkan ini lah yang menuntut kita untuk berpikir secara global.

Kelemahan (3) adalah, buku ini relatif tua, tentunya data dan referensi yang digunakan juga demikian.

Misalnya, data produksi global tembaga, aluminium, timbal, dan berbagai bahan tambang lainnya yang dipaparkan dalam buku ini merupakan data tahun 1946. Contoh lainnya adalah penduduk Pulau Jawa, pada halaman 756 dituliskan populasi penduduk pulau Jawa sebanyak 50 juta orang, sedangkan berdasarkan data publikasi BPS, penduduk pulau Jawa pada tahun 2010 sudah mencapai 136,6 juta.[2]

Selain itu, kita juga akan menemukan nama negara dan batas negara yang mungkin berbeda dengan data/atlas/peta yang kita miliki. Untuk menyebut nama beberapa negara ASEAN misalnya, buku ini masih banyak menggunakan nama French-Indochina; sedangkan nama negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Burma, dan nama negara lainnya jarang disebut. Pembahasan mengenai kawasan nusantara masih sebatas tiap pulau-pulau-nya saja: Sumatera, Jawa, Borneo, Celebes, Molucca, dan New-Guinea.

Selain kartografi, tidak ada kaitan sama sekali terhadap SIG dalam buku ini. Buku ini lebih menekankan fundamental geografi dibanding aspek teknisnya.

PRINCIPLEs_hG_hut_samping

Kesimpulan

Sebagai mahasiswa geografi, pada awal kuliah kita sudah diberitahu bahwa mempelajari Geografi itu tidak sekedar menghafal lokasi, kota, nama negara, sungai, gunung, dan berbagai karakteristik tempat lainnya: ilmu geografi mempelajari lebih dari sekadar menghafal.

Lalu apakah menghafal lokasi (lokal maupun global) menjadi tidak penting? Tentunya tidak juga. Paling tidak dengan menghafal lokasi kita bisa lebih efisien dalam memahami apa yang ada dalam buku ini tanpa perlu membolak-balik membuka atlas/Google Earth, sehingga pada akhirnya nanti kita bisa lebih mudah memahami berbagai fenomena/fakta/berita yang ada di dunia—mempermudah kita untuk berpikir global.

Buku ini merupakan kandidat yang tepat dalam membantu kita berpikir demikian.

Sebuah bacaan klasik menyegarkan (iya.. dan merepotkan), memberikan sebagian alasan untuk mempelajari ilmu geografi, ditengah perkembangan ilmu geografi yang sedang galau, berubah-ubah dari awal abad ke-20 hingga sekarang; Sebuah tiket keliling dunia bagi yang tidak berduit; Dan tentunya, pelarian akademis dari kelas perkuliahan yang mulai ngablu….

 

[1]Images of Yale individuals, ca. 1750-2001 (inclusive). Manuscripts & Archives, Yale University.

[2]Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000 dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995. Diakses di http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=12 pada 7 April 2014.

 

Advertisements

One thought on “Resensi: Principles of Human Geography

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s